Fragmen · Tragedi Romantik

Keberangkatan ke Padang Panjang

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck · Hamka

Ekoran desas-desus dan tekanan adat Batipuh terhadap pemuda tanpa suku, Zainuddin diminta meninggalkan dusun. Sebelum berangkat ke Padang Panjang, dia bertemu dengan Hayati di tebing jalan di luar kampung.

Seorang lelaki dan wanita berhijab berdiri berhadapan di pinggir sawah ketika matahari terbenam, berlatarbelakangkan perkampungan dan banjaran gunung.
  1. BERANGKAT

Malam itu, setelah mendengarkan perkataan Mande Jamilah, dan setelah mengingat perkataan-perkataan yang pedih-pedih, sindiran yang menyayat jantung dari Datuak......

mata Zainuddin tidak hendak tertidur. Pincangnya masyarakat Minangkabau, buruk nian nasibnya. Tak ubahnya kedatangannya ke Minangkabau, bagai musafir yang mengharapkan minuman dan melihat air di pertengahan padang pasir, demi setelah didatanginya ke sana, sebuah pun tak ada yang nampak.

Kadang-kadang disesalinya perkawinan ayahnya dengan ibunya. Kadang-kadang pula dia menyadar untung malangnya, mengapa dia tak dilahirkan dalam kalangan orang Minangkabau!

Tapi bukan itu agaknya yang menutup pintu baginya untuk bertemu dengan Hayati, agaknya lantaran dia tak berwang. Orang tak melihat, bahwa sekedar belanja menunggu dapat penghidupan tetap, dia masih menyimpan. Tetapi bukan itu yang jadi sebabnya, walau pun wang berbilang, Mempunyai emas dalam jumlah banyak; tahil ialah ukuran berat lama, namun pemisahan adat masih tebal di negeri itu.

Ia diusir, meskipun dengan cara halus. Perbuatannya dicela, namanya dibusukkan. Seakan-akan tersuci benar negeri Minangkabau ini dari dosa.

Seorang anak muda, yang berkenalan dengan seorang anak perempuan, dengan maksud baik, maksud hendak kawin, dibusukkan, dipandang hina. Tetapi seorang yang dengan gelar bangsawan nya, dengan titel datuk dan penghulunya mengawini anak gadis orang berapa dia suka, kawin di sana, cerai di sini, tinggalkan anak di kampung anu dan cicirkan di kampung ini, tidak tercela, tidak dihinakan. Seorang anak muda yang datang ke kampung, yang lahir dari pada perkawinan sah, dan ibunya bukan pula keturunan sembarang orang, malah Melayu pilihan dari Bugis, dipandang orang lain.

Tetapi harta seorang ayah, yang sedianya akan turun kepada anaknya, dirampas, dibagi dengan nama “adat” kepada kemenakannya. Kadang-kadang pula pemberian ayah kepada anaknya semasa dia hidup, diperkarakan, dan didakwa ke muka hakim oleh pihak Anak saudara; dalam adat Minangkabau sangat penting dalam sistem keturunan sebelah ibu, tidak tercela, bahkan terpandang baik.

“Ke dalam masyarakat apakah saya telah terdorong dan kaki saya telah terjerumus,” kata Zainuddin dalam hatinya. Timbul kebencian yang sangat di dalam hatinya, tetapi kebencian itu pun sirnalah sebentar itu juga, bila diingatnya bahwa ayahnya asal dari sana, dan dia pun asal dari sana, meskipun orang lain tak mengakui. Lebih lagi, bukankah Hayati dilahirkan dalam kalangan itu?

Boleh dikatakan tiada terpicing matanya semalam itu. Setelah ayam berkokok tanda siang, dia telah turun membasuh mukanya ke halaman dan mengambil Ejaan lama bagi wuduk, iaitu bersuci sebelum solat, terus sembahyang subuh.

Tidak berapa saat kemudian, fajar pun terbitlah dari Arah Timur, kicau murai di pohon kayu, dan kokok ayam di kandang, laksana serunai nafiri mengelu-elukan kedatangan maharaja siang yang menang dalam pejuangan. Awan di Timur dan di Barat, berbagai-bagai rona nampaknya, laksana menunjukkan perayaan alam yang terjadi tiap-tiap pagi dan tiap-tiap sore. Tidak lama kemudian, sebelum tanah dan jalan raya yang meliku melekok melalui negeri-negeri kecil dari Padang Panjang ke Sumpur, ditimpa cahaya matahari, maka puncak gunung Merapi dan Singgalang telah kena cahaya lebih dahulu, amat indahnya laksana disepuh dengan emas Indah, cantik atau elok; digunakan secara puitis. Di waktu demikian, kelihatanlah orang-orang dusun keluar dari rumahnya, berselimut kain sarung, dan perempuan-perempuan berkain telekung dan menjinjing buli-buli. Tidak lama kemudian matahari pun terbitlah.

Semua itu dilihat oleh anak muda itu, sambil menarik nafas panjang. Dia kelihatan berjalan dengan gontainya, di halaman'yang luas dari rumah adat yang berderet-deret, setelah menjabat tangan Mande Jamilah yang mengantarkannya sampai ke halaman. Semuanya dengan perasaan yang amat sayu.

Dia melangkah, langkahnya tertegun-tegun. Di tentang rumah Hayati, sengaja ditekurkannya kepalanya, karena sudah putus harapannya hendak bertemu, bunga harum berpagar duri, yang dari sana penyakitnya, tetapi di sana pula obatnya.

Meskipun rum pun bambu yang berderet di tepi jalan membawa udara dan bunyi yang menyegarkan pikiran, bagi orang sebagai Zainuddin semuanya itu hanyalah menambah penyakit. Sebab negeri Batipuh, negeri yang ditujunya dari kampung kelahirannya, akan tinggal.

Halaman tempatnya bermain, akan tinggal. Surau tempatnya bermalam, akan tinggal. Pondok kecil, biasanya di sawah atau kebun tempat dia bermula menjalin janji dengan Hayati, dan ......akan tinggal Hayati sendiri.

Tiba-tiba, setelah kira-kira setengah jam dia meninggalkan kampung yang permai itu mengayun langkah yang Lemah dan perlahan, biasanya kerana sedih atau tidak bersemangat, Bentuk hujung bumbung rumah adat Minangkabau yang melengkung dan meruncing ke atas rumah-rumah telah mulai ditimpa cahaya pagi, disuatu pendakian yang agak sunyi, di tepi jalan menuju Padang Panjang, kelihatan olehnya seorang perempuan berdiri, berbimbing tangan dengan seorang anak laki-laki. Orang itu ialah Hayati sendiri dan adiknya Ahmad, yang berdiri menunggunya.

Bergoncang sangat hatinya demi melihat anak perempuan itu. Lidahnya seakan-akan terkunci.

Tapi demi dilihatnya muka anak perempuan itu tenang saja, timbullah malu dalam hatinya hendak menunjukkan kesedihan. Setelah lama dia tegak termenung menentang muka Hayati barulah dapat dia berkata “Rupanya ada juga niat hatimu hendak menungguku di sini, Hayati!”

“Memang, tuan Zainuddin, ah ..... engkau tak akan kubahasakan “tuan” lagi, memang Zainuddin, sahabatku. Sejak saya mendengar sikap yang telah diambil oleh mamakku, terancamlah perhubungan kasih sayang kita. Dan orang kampungku telah syak wasangka kepada kita yang bukan-bukan. Sebab itu, saya datang kemari melepasmu pergi, biar engkau pergi sejauh-jauhnya pun, namun jiwamu telah dekat dengan jiwaku. Sekali seorang anak perempuan yang jujur telah memberikan bujukan kepada seorang laki-laki yang menghamparkan sayap pengharapan, maka selama hidupnya, kematianlah yang akan menceraikan perjanjiannya itu.

Zainuddin, kekasihku, berangkatlah, biar jauh sekalipun, kulepaskan! Tapi harapanku hanya sebuah engkau sekali-kali tak boleh putus asa, jangan diberi hatimu berpintu sehingga kesedihan dan kedukaan masuk ke dalam.

Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis salisedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan. Berangkatlah! dan biarlah Tuhan memberi perlindungan bagi kita.”

“Hayati,” ujar Zainuddin, “amat besar harganya perkataanmu itu bagiku. Saya putus asa, atau saya timbul pengharapan dalam hidupku yang belum tentu tujuannya ini, semuanya bergantung bukan kepada diriku, bukan pula kepada orang lain, tetapi kepada engkau sendiri. Engkaulah yang sanggup menjadikan saya seorang gagah berani, tetapi engkau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Engkau boleh memutuskan harapanku, engkau pun sanggup membunuhku.”

“Kalau demikian, hari inilah saya terangkan di hadapanmu, di hadapan cahaya matahari yang baru naik, di hadapan roh ibu bapa yang sudah sama-sama berkalang tanah, saya katakan:

Bahwa jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan jadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiadakan khianat kepada janjiku, tidak akan berdusta di hadapan Tuhanku, dan di hadapan arwah nenek moyangku,” ujar Hayati.

“Berat sekali sumpahmu Hayati?”

“Tidak berat, demikianlah yang sebenarnya. Dan jika engkau, kekasihku, berjalan jauh atau dekat sekalipun, entah tidak kembali dalam masa setahun, masa dua tahun, masa sepuluh tahun, entah hitam negeri Batipuh ini baru engkau kembali ke mari, namun saya tetap menunggumu. Carilah bahagia dan keberuntungan kita kemana jua pun namun saya tetap untukmu. Jika kita bertemu pula, saya akan tetap bersih dan suci, untukmu, kekasihku, untukmu.........

Allah yang tahu bagaimana beratnya perasaan hatiku hendak melepasmu berangkat pada hari ini, tapi apa yang hendak kuperbuat selain sabar. Tuhan telah memberi saya kesabaran, moga-moga kesabaran itu terns menyelimuti hatiku, menunggu di mana masanya kita menghadapi dunia ini dengan penuh kesyukuran kelak.”

Baru sekarang terbuka rahsia batin yang tersembunyi di hati Hayati, yang selama ini masih dipandang oleh Zainuddin sebagai teka-teki. Sekarang, yakni seketika dia akan bercerai-cerai, dan entah akan bertemu pula entah tidak. Dan pada muka Hayati kelihatan bagaimana hebat peperangannya menahan hatinya.

“Baiklah Hayati, saya akan berangkat dengan harapan yang penuh, harapan yang tadinya sebelum kau kelihatan berdiri di sini sudah hampir hilang. Cuma masih ada permintaanku kepada engkau: Kirimi saya surat-surat, dan kalau tak berhalangan, surat-surat itu akan saya balasi pula.”

“Akan saya kirimi sedapat mungkin, akan saya terangkan segala perasaan hatiku sebagaimana pepatahtahumu selama ini, dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan.”

“Mana tahu, entah lama pula kita akan bertemu. Berilah saya satu tanda mata, azimatku, dalam hidupku, dan akan kuwasiatkan meletakkan dalam kafanku jika kumati. Berilah, meski pun suatu barang yang semurah-murahnya bagimu, bagiku mahal semua.” Termenung Hayati sebentar. Tiba-tiba dibukanya selendang yang melilit kepalanya, dicabutnya beberapa helai rambutnya, diberikannya kepada Zainuddin: “Inilah, terimalah! Selamat jalan........”

Digamitnya adiknya Ahmad itu dengan tangannya dia pun berpaling muka, berjalan dengan secepat-cepatnya menuruti jalan raya itu dan membelok ke jalan kecil yang menuju kampung halamannya, sementara Zainuddin tidak dapat berkata sepatah juga lagi.

Tidak berapa menit kemudian, kelihatanlah dari jauh sebuah Kereta kecil beroda dua yang ditarik oleh kuda yang sedang mendaki dan kudanya berjalan dengan gontai, muatannya kosong, bendi itulah yang mengejutkannya, sehingga terhenti dari tekurnya.

“Menumpang ke Padang Panjang,” ujarnya.

Tamat

Keberangkatan ke Padang Panjang · Jalin